Pimpinan Pondok Ustadz Abuya Jaelani Beserta Tamu dan Santrinya
Pendidikan Untuk Cetak Generasi Qur'ani Berakhlak Mulia
Fasilitas Alakadarnya Tapi Tetap Semangat Memburu Ilmu

Program Keummatan Kami

princeton-97827_1280

Pesantren Hidayatullah Jampang, Bogor, memiliki program keummatan diantaranya kepesantrenan dan panti asuhan, dakwah Islam, taklim, ekonomi pemberdayaan, dan sebagainya.

Dokumentasi Visual Grafis

san-jose-92464_1280

Berbagai program dan kegiatan telah diselenggarakan baik program rutin maupun insidentil khususnya untuk pembinaan dan pengembangan kompetensi santri.

Mari Beramal Jariyah

academic-2769_1280

Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Bogor, Jawa Barat, membina seratusan santri dengan gratis mulai dari pendidikan dan tempat tinggal. Mari terus memberdayakan mereka.

04/03/16

Hidayatullah Bogor Mengadakan BAKSOS Kesehatan Untuk Santri dan Warga Sekitar

Pengobatan gratis untuk santri dan warga sekitar

Memasuki musim penghujan tentu banyak bermunculan wabah penyakit. Seperti wabah demam berdarah dengue (DBD) misalnya.
Yayasan Ponpes Hidayatullah Bogor bekerjasama dengan IMS mengadakan pengobatan gratis untuk santri dan masyarakat sekitar.
Kegiatan sosial ini merupakan kedua kalinya yang di adakan oleh Yayasan Ponpes Hidayatullah Bogor berlangsung pada Ahad ( 21 / 2 / 2016) .
Menurut Ustadz Jaelani Ja'far, Lc, Pimpinan Yayasan Ponpes Hidayatullah Bogor kepada santri dan masyarakat sekitar berpesan akan pentingnya keseimbangan pengobatan.
" Selain kita berobat secara medis maupun dengan thibbun nabawi, kita juga harus kembali kepada pedoman hidup kita yaitu al-Qur`an. Dengan al-Qur`an jiwa, fikiran, dan hati kita bisa menjadi tenang dan itulah obat. Ketika susah dan senang, ketika sakit maupun sehat jangan sekali-kali kita mengabaikan al-Qur’an,” ujar ustadz Jaelani Ja'far, Lc.
Masyarakat merespons cukup baik dan antusias dengan adanya program kesehatan gratis ini, terbukti pasien yang hadir pada hari ini tercatat 115 pasien, meliputi orangtua, remaja, dan anak-anak.
" Kami senang dengan adanya program BAKSOS Kesehatan yang di adakan Yayasan Ponpes Hidayatullah Bogor ini, karena di kelurahan jampang ini sudah ada 20 orang dinyatakan terjangkit DBD, semoga dengan adanya kegiatan ini keluhan - keluhan warga dapat tertangani dengan baik " ujar Endin Zainudin, Ketua Rt 01/06
Sanusi (45 tahun) yang mewakili warga, memberikan apresiasi terselenggaranya kegiatan ini.
" Sudah beberapa hari ini saya merasakan badan tidak enak, makan tidak enak, semua serba tidak enak. Mungkin karena cuaca juga. Mau berobat juga enggan karena harus pergi jauh, tapi alhamdulillah di sini ada pengobatan gratis,” ujar Sanusi.
Menurut Dokter Martwin selaku ketua tim medis Islamic Medical Service (IMS) keluhan warga rata-rata darah tinggi, flu, maag, reumatik, dan gatal-gatal.
Selanjutnya untuk wabah demam berdarah, Dokter Martwin mengimbau kepada warga untuk menjaga kesehatan dan kebersihan dengan melakukan fogging (pengasapan) sehingga jentik-jentik nyamuk tidak meluas.
Penyuluhan dan pengobatan gratis ini diprakarsai oleh DPD Hidayatullah Kota Bogor bekerjasama dengan IMS dan dukung oleh PW Hidayatullah Jabotabek, Majalah Suara Hidayatullah dan Baitul Maal Hidayatullah (BMH).

29/02/16

Keceriaan Santri Pesantren Hidayatullah Bogor Usai Berwudhu



Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Desa Jampang Bogor terus berbenah. Para santri juga selalu didampingi dan diarahkan akan pentingnya ilmu dan amal ibadah kepada Allah Taála.

Tampak dua orang santri melempar senyum ke kamera usai mengambil air wudhu sesaat akan melaksanakan shalat asar berjamaah di masjid pesantren.

03/02/16

Wakil Presiden RI Jusuf Kalla Buka Munas IV Hidayatullah




Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla meresmikan Pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) IV Tahun 2015 Hidayatullah di Pondok Pesantren Hidayatullah Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur pada hari Sabtu, 7 November 2015.
Dalam sambutannya Wapres menyampaikan rasa terima kasih kepada lembaga dakwah Islam Hidayatullah, dan lembaga dakwah Islam lainnya seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU) dan organisasi dakwah Islam lain yang telah berkiprah menegakkan dan mengembangkan Islam di Indonesia secara damai dan saling pengertian dengan umat beragama lainnya.
“Kita semua bersyukur atas segala amal ibadah yang telah dilakukan oleh Hidayatullah dan segenap pimpinan serta masyarakat organisasi sesi dakwah yang umatnya besar dan berkiprah lebih dari 100 tahun seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU), yang memberikan suatu warna tersendiri bagi Islam Indonesia,” kata Wapres.

Dalam pandangan Wapres, Hidayatullah sebagai lembaga dakwah Islam tumbuh sangat pesat dibanding dengan organisasi Islam lainnya, sehingga dalam waktu relatif singkat telah berkembang sacara nasional dan memberikan saham besar bagi dakwah Islamiyah di Indonesia. Untuk itu, Wapres berharap Hidayatullah ke depan dapat memberi evaluasi dan rencana dakwah Islam yang lebih baik lagi bagi kepentingan bangsa dan negara Indonesia.
Wapres mengingatkan bahwa dewasa ini umat Islam di dunia sedang mengalami cobaan berat, yakni jutaan dari mereka berhijrah ke negara lain, dan tragisnya kata Wapres, justru meminta perlindungan ke negara non Islam karena di negara-negara Islam sedang mengalami konflik yang saling membunuh, sehingga hidup mereka tidak nyaman sebagaimana terjadi di Suriah, Libya, Afghanistan, Yaman, dan di Myanmar serta di banyak negara Islam lainnya yang selama ini menjadi lambang kebesaran negara Islam.
Oleh karena itu, Wapres mengajak seluruh umat Islam di Indonesia untuk mendoakan agar negara-negara Islam tersebut kembali damai dan memberikan hal yang baik untuk peradaban dan ahklak. Sebagai negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI) kata Wapres, kita menghargai dan bersyukur bahwa Islam di Indonesia adalah penganut Islam yang tidak seperti di banyak negara konflik tersebut yang saling membunuh, membom, dan menghabisi satu sama lain.
“Karena itulah kita selalu ingin Islam di Indonesia yang moderat, toleran dan saling mendukung satu sama lain,” harap Wapres. Islam seperti itulah yang diharapkan di Hidyatullah, Islam yang tanpa kekerasan, Islam dengan damai berdakwah dengan baik satu sama lain.
Diakhir sambutan Wapres dengan didampingi Gubernur Kalimantan Timur Awang Faroek Ishak dan Ketua Umum Hidayatullah Abdul Mannan melakukan pemukulan bedug sebagai tanda diresmikannya Pembukaan Munas IV Tahun 2015 Hidayatullah.

Hadir dalam acara tersebut Walikota Balikpapan dan jajaran pimpinan wilayah Kalimantan Timur dari Kodam VI/Mulawarman dan Polda. Sementara Wapres Jusuf Kalla didampingi oleh Kepala Setwapres Mohamad Oemar, Deputi Kasetwapres Bidang Dukungan Kebijakan Pembangunan Manusia dan Pemerataan Pembangunan Bambang Widianto, dan Staf Khusus Wapres Alwi Hamu.(wapresri.go.id).
(sumber : Hidayatullah.or.id )

Beratnya Jalan Dakwah dan Mendidik Militansi Kader



SEBUAH episode kecil terjadi pada level kepemimpinan di sebuah daerah, yang mengambil angel tentang penugasan seorang dai ke sebuah desa terpencil. Jauh hari sebelumnya sudah kadung terpatri di benak kader bahkan lebih mirip kalau kita sepakati dengan virus istilah yang mewabah “daerah basah” dan “daerah kering”. Ironi. Bahkan mestinya tidak ada kedua kata itu di ranah dakwah. Apapun dan bagaimanapun tempat tugas kita, kondisi itulah yang terbaik bagi kita. Yang sudah pasti adalah skenario Allah subhanahu wa ta’ala selalu baik sebagaimana prosesnya. Kalau toh nanti diperjalanan ditemui trouble itu karena orangnya yang gagal mengimplementasikan iman ke dalam tugas dakwahnya. Meski dalam visi kita lebih ditekankan pada orientasi proses, lebih mudahnya soal hasil serahkan saja pada Yang Maha Memberi (hasil). Jujur, sangat menarik ungkapan menyentuhnya seorang pimpinan daerah yang mengatakan “Yang penting syariatnya sudah saya penuhi dan hasilnya ada yang mengatur”. Sebuah keyakinan yang terpatri bahwa Allah subhanahu wa ta’ala sudah mendesain kita bahagia dengan apa yang telah kita miliki. Kita saja yang kadang terlalu takut dengan kebahagian yang hanya diselubungi sedikit kesusahan bahkan seperti ada kesan ragu terhadap Maha Murahnya Allah subhanahu wa ta’ala, Naudzu billah min dzalik!. Terlalu banyak kisah-kisah kader hebat yang dimiliki lembaga kita, sampai hari ini. Kader Hidayatullah memilih untuk berani meski ada ketakutan dalam hatinya, memilih suka meski terkadang terselip perasaan benci dan dengan ringan mengatakan “ya” meski isteri dan anaknya tak jarang “mengajukan banding” kepada dirinya bahkan mereka. Sudah gamblang, bagi kita sebagai dai, setiap putusan oleh orang-orang sholeh yang tergabung dalam sebuah majelis untuk bermusyawarah itu hasilnya tidak pernah membuat menyesal, itu mutlak. Pada tingkatan ini ketaatan bukan lagi pada hiasan ihsan verbal saja melainkan sudah menjadi life style. Karena setidaknya dengan mendelegasikan kata “bahagia” sudah bisa mewakili rasa senang ketika bisa menjalankan amanah. Meski sebelumnya muncul persoalan penyebab keragu-raguan. Biasanya, yang paling mendominasi adalah rasa ketidakmampuan. Kalau rasa ketidakmampuan ini yang muncul dibarengi kepasrahan yang total kepada Allah, itu berindikasi baik. Ini indikasi kerberhasilan menjalankan amanah, setidaknya akan melibatkan Sang Khalik dalam setiap kebijakannya. Memang, akan sangat berbeda kalau sejak awal ada kepasrahan yang total. Yakin betul kalau di setiap detil amanah yang diemban bersamaan ada hiburan yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan sebagai bonus. Lalu, kenapa musti ragu? Keyakinan mahal yang selalu diberikan hampir di setiap event baik wilayah maupun skala nasional adalah keyakinan tentang kepasrahan yang totalitas. Mengikut skenario besar yang “disutradarai” oleh Sang Maha Pengatur. Kemudian, indikator keberhasilan bisa dilihat pada harga pasnya kader saat menerima amanah tanpa mengajukan beberapa pertanyaan kecil seputar pribadi; Mata pencarian, pendidikan anaknya, status kepegawaian di pemerintah dan sejenisnya. Karena sesungguhnya sosok kader yang taat selalu diliputi kebahagiaan, dewasa dalam berpikir dan piawai menyiasati keadan. Bisa memainkan semua kondisi menjadi pendukung untuk kader selalu tampil menarik di hadapan umat meski sedari pagi belum ada sesuatupun yang mengisi lambungnya. Tetap tegar dengan berbagai suasana keumatan, dengan 35 orang yang ia bina terdapat 35 juga keinginan yang berbeda namun mampu disatukan dalam sebuah persepsi yakni ketaatan dan bersabar dalam kebenaran-Nya. Wallahu a’lam bishshowab. ( sumber : Hidayatullah.or.id )
 ________________
ABU UMAR BASYA, penulis adalah Pimpinan Daerah (PD) Hidayatullah Mamuju Tengah, Sulawesi Barat.

29/01/16

Galeri Santri Pesantren Hidayatullah Bogor

Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Bogor yang beralamat di Desa Jampang, RT. 01 RW. 06, Keluarahan Jampang, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, terus berkiprah. Saat ini yaysan telah menyelenggarakan program layanan sosial dan pendidikan mulau dari tingkat SD, SMP, dan SMA.

Alhamdulillah, berkat dukungan para donatur dan dermawan muslim sekalian, program keummatan Yayasan Hidayatullah Bogor dapat terus berjalan dengan baik. Semoga amal ibadah Bapak/Ibu semua mendapatkan balasan dari Allah Subhanhahu Wata'ala. Amiin.

Berikut beberapa foto sudut wajah ceria santri Hidayatullah Bogor.




Diberdayakan oleh Blogger.

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Copyright © Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Desa Jampang Kota Bogor | Powered by Blogger
Design by Viva Themes | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com